Menghadapi Masalah Menjelang Pernikahan

>> Sunday, October 17, 2010

Barusan ada temen yang IM-ing aq. Dy curhat kalau dy nggak yakin dengan calon suaminya. Keluarga masing-masing sudah saling bertemu, cincin pengikat sudah dipasang, tanggal sudah ditentukan. Tapi, bukan rasa yakin yang muncul tapi malah rasa tidak yakin kalau the-one-right-now is the-right-one.


Hmm... kebayang lah rasa gundahnya temenku ini. Takut mengecewakan orang tua dan orang tua si calon suami, tapi juga takut untuk mengecewakan diri sendiri kalau mengambil keputusan yang salah.

Pas chatting tadi, aq jadi inget dengan email yang aq tulis untuk temenku (yang lain) tahun lalu. She was jealous (katanya di email) ketika ngeliat aq dan si Mas yang hampir setahun married tapi si Mas masih yang so romantis. "Aq bilang lha emang masih setahun, ini kan masih masa hunimun." Tapi tetep aja, dy merasa ada yang salah dengan calon suaminya. Dy nggak yakin kalau calon suaminya is the right-one.

Aq share disini yah emailnya... (sudah dengan ijin si penerima email)

----------------------------------
Sabar yah, say... Ketika mempersiapkan pernikahan kadang ada perasaan ragu yang muncul. Ini pinter-pinternya qta aja menelaah, apakah ini termasuk 'godaan' atau 'pertanda'.

Kadang 'godaan' bisa berupa si calon suami terlihat buruk banget dari sudut pandang kamu. Kalau ketika masih pacaran kamu ngerasa dy sempurna buat kamu, tapi sekarang dy so annoying. Nggak ada bagus-bagusnya.

Tapi bisa jadi ini 'pertanda'. Kalau dulu dy selalu tepat waktu ngejemput, sekarang malah suka ngebatalin janji di menit-menit terakhir. Telepon nggak pernah diangkat. Kesannya ingin menjauh dari kamu.

Masalahnya kadang ada beberapa pasangan yang melihat 'godaan' sebagai 'pertanda'. Jadi yang sebenarnya mereka baik-baik saja, jadi nggak enak-an. Si calon istri jadi cemburuan, curigaan, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menikah.

Tapi ada juga yang melihat 'pertanda' hanya sebagai 'godaan'. Si calon suami yang sebenarnya perasaannya terhadap si calon istri sudah berubah, dan menunjukkan tanda-tanda 'tidak ingin terikat' malah tidak terbaca 'tandanya' oleh si calon istri. Dan mereka tetap memutuskan untuk menikah. Akhirnya setelah menikah bukan 'selamat berbahagia' yang didapatkan oleh mereka, tapi kebalikannya.

'Pertanda' ini penting banget.

Aq punya temen, dulu ketika dy akan menikah. Dy nggak peduli dengan 'pertanda' yang coba diberikan oleh calon istrinya. Mereka sudah beberapa kali merencanakan menikah dan batal, sampai akhirnya temenku berusaha meyakinkan si calon istri untuk menikah. Persiapan sudah hampir sembilan puluh persen, undangan sudah disebar, dua minggu sebelum pernikahan temenku tahu kalau si calon istri ini sedang hamil dengan orang lain. Karena dy nggak mau ngecewain orang tuanya dan orang tua si calon istri, dy memilih untuk tetap menikahi calon istrinya. Tapi bisa dibayangkan donk kehidupan rumah tangga mereka, si istri sudah nggak cinta dan punya anak dengan orang lain. Si suaminya merasa bertanggung jawab pada keluarganya, sehingga berusaha mempertahankan rumah tangga. It's like living in hell.

Tapi jangan sampai juga melihat 'godaan' sebagai 'pertanda'. Calon suami yang baik-baik saja, beberapa bulan menjelang pernikahan (tiba-tiba) terlihat sebagai orang yang careless, annoying, dan tidak berkepribadian dari dudut pandangmu. Sehingga kamu memutuskan untuk tidak mau menikah dan melepaskan salah satu calon suami potensial.

Dan kalau aq boleh ingetin sebagai temenmu jangan pernah membatalkan rencana pernikahan karena calon suamimu nggak cukup good-looking. Hooooohhhh, plis deh! Kalau kamu menikah satu-satunya yang paling penting adalah inner beauty, kalau kamu cuma peduli dengan foto pernikahan yang akan kamu pajang di tembok sepanjang masa, you will regret it!

Foto suami yang keren memang enak dipandang mata, tapi bukan jaminan kalau dy pasangan yang akan menyenangkan untuk berbagi hidup. Ingat, inner beauty first, outer beauty is a bonus.

Toh ketika kamu sudah menikah, nggak akan peduli dengan suami cakep atau nggak. Yang paling penting bagaimana dy menjadi pemimpin keluarga. Misal kalau kamu masih berpendapat dy nggak cakep, coba tanya ma calon suamimu apa kamu lebih cakep dari pada Kim Kardashian? :p
Bukan kamu aja yang punya hak untuk men-judge calon suamimu, dy juga punya hak loh... ^^

Jadi kalau boleh aq kasih saran, pertimbangkan baik-baik. Liat lagi calon suamimu...

Apakah memang dy nggak cukup pantas untuk jadi suami.

Apakah meragukan dy hanya sebagai suatu 'godaan'.

Kalau masih nggak yakin coba tanya orang-orang terdekatmu, yang melihat dan berinteraksi dengan calon suamimu setiap hari. Apakah memang ada perubahan didirinya.

Coba juga (yang ini sulit, karena aq juga sering gagal melakukannya) untuk melihat masalah yang datang dengan kepala jernih. Karena masalah itu kadang asalnya bukan datang dari luar, tapi malah dari diri kita sendiri. Setiap kamu kesal dan merasa terganggu dengan masalah yang datang, ambil nafas panjang, tenangkan pikiran, dan coba rilex. Lalu pelan-pelan telaah lagi masalah yang datang ke kamu, pasti ada jalan keluarnya.

Yang terakhir yang paling penting adalah berdoa. Kadang ketika mempersiapkan pernikahan, calon pengantin hanya sibuk dengan pernak-pernik pernikahan. Tapi melupakan yang paling penting, pernikahan adalah ibadah. Jadi sebaiknya persiapannya juga diiringi oleh ibadah dengan intensitas yang lebih.

Kamu nanya ibadah apa aja yang aq lakuin yah?

Sebenernya nggak banyak berbeda dengan apa yang kamu lakukan. Kalau boleh berbagi pengalaman, suamiku dulu ketika akan menikah dy rajin puasa senin-kamis. Sayangnya aq nggak boleh ikutan, karena Ibuku dulu menyarankan aq untuk menaikkan berat badanku, dan sulit banget dicapai kalau bersamaan dengan puasa, jadi aq nggak ikutan puasa. Aq mengganti dengan lebih banyak berdoa dan berzikir. Then, aq dan suami juga rajin untuk sholat malam dan istikharah. Aq percaya kamu dan calon suamimu pasti udah ngelakuin semuanya, tapi kadang rasa ragu itu masih suka muncul, sama aq dulu juga gitu. Misalnya muncul cepet-cepet berdoa aja, agar rasa ragu itu dihapus dan diberikan jalan yang terbaik.

Lho kok jadi panjang yah ceritanya plus ada marah-marahnya lagi... Hehehe... maaf yah.
Kalau kamu ngerasa masih ada yang mengganggu pikiran please feel free to ask me, ok! ^^

------------------------------------
Aq sendiri juga mengalami keraguan dan naik-turunnya emosi menjelang pernikahan (ceritanya aq post di sini). Walaupun menyebalkan, tapi rasanya lega banget ketika bisa melaluinya dan masuk ke tahap selanjutnya yang membahagiakan, berumah tangga. Jadi aq berharap bagi teman-teman yang akan menikah, mudah-mudahan bisa melalui masa-masa pernikahan yang 'seru' ini, dan melangkah ke tahap selanjutnya yang lebih membahagiakan dan lebih 'seru' pastinya.

7 comments:

Masbro October 17, 2010 at 11:55 PM  

Panjang banget emailnya..Saya bacanya (email) lewat word (sy pindahin dulu) biar lebih terang..

Iya benar. Saat satu persatu temen2 saya menikah, perasaan yg dialami kayaknya hampir serupa. Mungkin, pas mendekati hari H, produk emosi semakin jumpalitan. Maklum, menikah kan idealnya bukan hanya untuk sementara, tp dunia akherat..
Tulisan yg bagus, salam hangat;

Chita October 18, 2010 at 1:20 AM  

Terima kasih ^^

Yup, perasaan menjelang menikah memang naik-turun, 'seru'. Dan email panjang ini saya rasa masih belum bisa menggambarkan semua 'ceramah' saya ke temen-temen yang mo lari dari rencana pernikahan mereka (yang sukurnya nggak jadi).

Nb: thanks buat masukannya, setelah dibaca lagi saya juga ngerasa layoutnya memang agak kurang nyaman di mata hehehehe ^^

Bali Property October 19, 2010 at 3:06 PM  

terima kasih atas sarannya, sangat bermanfaat, karena saya belum pernah menikah.
iya yang paling penting adalah kita harus rajin beribadah dan berdoa kepadaNya.
Bali Villas Bali Villa Villas in Bali

Chita October 20, 2010 at 1:37 AM  

Betul, mudah-mudahan bermanfaat yah ^^

Bayu October 22, 2010 at 11:58 AM  

Syukur Alhamdulillah, pas menjelang pernikahan dulu istriku top banget.
:p

Post a Comment

Komentar dan pertanyaan mohon diajukan ke alamat terbaru di http://tempatketiga.wordpress.com/
Terima kasih

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP